• 22

    Jul

    Sekali Waktu

    credit Sekali waktu Ingin kusinggah memandu bola mataku Menyisir lentik bulu matamu Menangkap kejap jenaka, air mata sayu Melebar menyipit malu-malu Sesekali tajam mengunjam hati hingga ke ulu Berlinang menahan lelah, sedih, da...
  • 28

    Jun

    Setahun Cahaya

    credit Entah …. Mungkin butuh lagi setahun cahaya tuk sekadar bersua Lihatlah, alangkah padatnya jalan kita hingga bersimpangan saja tak sempat bicara hanya selempar senyuman dan tatapan Entah, bermakna apa Entah, tertuju ke m...
  • 21

    Jun

    Untuk Apikecil-ku

    Bolehkan ku sapa kau, Apikecil-ku supaya rekat jabat hangat supaya lekat senyum tergurat Seperti kala kita jumpa kilat suatu siang di tengahnya Jogja yang sarat Bolehkan ku sapa kau lagi, Apikecil-ku di usiamu yang sekali lagi genap bertambah Moga kian banyak ridho-Nya dicurah atas perguliran usia penuh berkah Moga selamat, sehat, sejahtera dilimpah untukmu, k...
  • 12

    Feb

    Namanya Aleryovan Nahli Erlangga

    Dear, Aloel Sebelum aku menulis banyak hal, bolehkah lebih dulu aku tertawa? :lol: Aneh rasanya memanggilmu dengan nama lengkap itu: Aleryovan Nahli Erlangga. Berapa banyak teman seangkatan kita yang tahu soal namamu ini? Aku pernah bilang, kan? It’s succesfully hidden so far. Well, yes, it was. Selama perkuliahan kau hanya menggunakan nama tengahmu: Nahli. Siapa yang tahu selain aku dan teman-teman dekatmu? Kupikir tak banyak. Yaelah, yakin banget! :P Kau tahu, Loel. Pertama kali melihatmu di antara teman HPT 2002, yang ada dalam benakku adalah sebuah kata yang bila dieja menjadi seperti ini: a-n-e-h. :lol: Bukan, bukan maksudku merendahkanmu. Ini pengakuan jujur dari seseorang yang tak sadar bahwa hal itu adalah satu dari sekian alasan yang membikin kita kelak menjadi teman baik.
  • 11

    Feb

    Be Strong, Girl!

    Dear, Ifah Entah, harus memulakan surat ini dari mana. Yang jelas aku tertegun ketika bulan lalu kau singgah di redaksi dengan wajah muram. Alasanmu kala itu hanya menitip menge-print surat. Namun, diammu yang tak seperti biasa, membuat batinku bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, Fah?” Aku masih saja diam, bermaksud tak mencampuri urusanmu karena aku tak pernah suka mengutak-atik kehidupan seseorang, kecuali aku dimintai saran. Setelah menunggu beberapa saat, kau akhirnya mau berkisah tentang kesulitan yang sedang kau hadapi. Sulit, aku tahu dari beberapa bulir airmata yang jatuh ke pipimu. Menangislah, tak apa. Kalaupun itu tidak bisa memperbaiki masalah, setidaknya kau akan jauh lebih lega. Lepaskanlah, katakan apapun yang kau mau, yang kau rasa. Semisal aku hanya bisa
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post