Kisah Klanduhan

16 May 2013

potret Klanduhan di musim kemarau

potret Klanduhan di musim kemarau

credit

Padamu Klanduhan, sungai tempatku bercanda
Kutitipkan satu salam hangat penuh cinta
Sebelum terpekur aku, duduk di tepianmu

Menerawang ingatanku
Jauh ke masa lalu
Ketika masih deras mengalir Klanduhanku
Ketika jernih airmu
Menjadi teman bermainku

Percik beningmu
Hampir selalu hinggap di tiap hariku
Adalah aku
Gadis kecil yang diam pun tak mau
Sesiangan berlompatan di antara batu-batu
Mencari ikan, membidik udang yang malu-malu

Itu dulu,
Ketika masih teramat kecil aku
Tuk sekadar mengerti
Apa yang telah mereka lakukan, bertubi
Pada Klanduhanku

Ya, kudapati itu beberapa tahun lalu
Ketika beberapa truk pengangkut pasir beriring
Hilir mudik, menyusuri tepian Klanduhan yang berair bening
Kusaksikan mereka mengeruk, menambangi pasir dan batu
Tak hanya laki-laki, terlibat pula ibu-ibu
Yang ironisnya mereka semua tetanggaku

Sebuah lubang seluas empang
Menganga di tengah aliran Klanduhan
Mungkin takkan ada efeknya saat kemarau
Tapi tidak jika hujan mulai datang menggalau
Hingga butiran air memerosotkan tebing hijau
Membawa lari bongkah tanah
Yang semestinya jadi topangan ketika hujan tercurah

Ah, tapi itu belum seberapa
Sebenarnya tak tega mengisahkan ini pada dunia
Namun, masalah sampah tak urung menjangkiti Klanduhan tercinta
Seperti halnya sungai umumnya di Indonesia

Klanduhan seolah dijadikan bulan-bulanan manusia
Sampah segala rupa dicemplungkan begitu saja
Mungkin maksudnya biar hanyut hingga lautan sana

Tapi, sungguh itu hanya percuma
Sampah bukan terhanyut, malah menumpuk dan terendap
Cemar sudah airnya oleh sampah manusia
Rusak Klanduhan dikeruk pasir batunya
Dan pun kelak tak jauh akibatnya
Kan mengimbas manusia di sekitarnya
Jika tak ada yang mau turut serta
Melibatkan diri
Mau peduli
Padanya, Klanduhan tercinta

-kaki Merapi, 31 Januari 2013-


TAGS sungai Klanduhan sampah lingkungan hidup eksploitasi sumber daya alam


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post