Jingga di Batas Asa

6 Feb 2015

Dear, Jingga

Langit lepas subuh masih temaram di luar sini. Itu berarti masih ada kesempatan untukku menemuimu bersama terbit mentari. Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, setelah segala hal yang terjadi selama ini.

Maafkan jika terlalu banyak yang kututupi darimu, Jingga. Sejak kau datang hampir 20 tahun lalu, mataku tercuri ke arah raut wajahmu. Siapa siswa baru di 3A itu? Sayang, jawaban yang datang bukan darimu, tetapi dari mereka, teman-teman sekelasmu. Beginilah nasib penghuni kelas 3B. Apapun yang terjadi di sebelah, hanya akan sampai di rongga telinga melalui ‘katanya’. Apa boleh buat, dua tahun pertama kehadiranmu, aku harus puas mendengar kabarmu dari ‘kata mereka’. Meski demikian, aku sempat berada dekat denganmu suatu pagi. Mimpi apa aku?

Bukan, itu bukan impian belaka. Kau ada di sampingku menerima juara ke-3 kenaikan kelas. Aku sempat mencuri pandang. Tahukah, aku suka caramu tersenyum. Mungkin, itu juga yang berhasil memikat beberapa anak kelas 3A. Salah satunya, Heni, temanku di sanggar tari.

Yang tak kusadari, mengapa perlahan aku mulai mencandu senyumanmu. Mulai suka melihatmu tertawa bersama teman-teman lelaki saat istirahat. Mulai suka dengan gayamu yang sporty saat menduduki posisi striker tim sepakbola sekolah. Pun mulai terganggu ketika kita sekelompok belajar. Guyonan, senyuman, cara tertawamu mulai menjadi ‘racun’ di pikiranku. Mulailah aku menderita karena merindukan seseorang yang tiap hari kulihat dan sesekali kutemui di sekolah. Ada sesuatu yang hangat sekaligus panas-dingin menjalar di sekujur tubuh saat bersamamu.

Anehnya, aku tetap menikmati semua penderitaan itu hingga 10 tahun kemudian. Aku mungkin punya kesempatan untuk mengatakannya, tetapi tak kulakukan. Aku menyimpan banyak kenangan tentangmu. Saat kita ditunjuk menjadi wakil sekolah untuk beberapa event lomba. Saat kita dipertemukan kembali oleh organisasi kepemudaan. Saat kau beberapa kali mengantarku pulang karena kemalaman. Saat kita berbincang selepas jam les privat adikmu. Saat kau membawakanku satu stopmap penuh bahan kliping untuk tugas kuliah. Saat kau menawarkan untuk meminjamiku kamera, scan, sekaligus menyunting foto-foto kerja lapang. Tahukah, ada ketakutan dalam diri: takut kehilangan kau, Sahabatku.

bahan-kliping-dari-jingga

Mungkin ada benarnya, sesuatu yang ditahan-tahan itu suatu ketika akan menemukan jalannya untuk keluar, atau meletup tak terkendali. Itulah yang kurasakan di 2007. Hatiku meradang mendengar kau mengatakan itu. Bahwa kau menunggu ia, bukan aku yang selama ini ada di dekatmu. Segala hal tentang kau mendadak mengaburkan pandanganku, tangisku pecah. Lagi-lagi aku harus menderita hingga berbulan-bulan kemudian. Mengapa harus begitu?

Aku tahu diri. Aku tak punya hak mengatur hidupmu. Pun tak berhak menentukan kau harus mencintai siapa. Kuambil jarak, aku takkan berada di sekitarmu. Berjanji pada diri sendiri untuk menjauh. Mengunci mulut dan bicara seperlunya kepadamu. Mulai berpaling kepada yang lain, meski itu bukan perkara mudah. Aku mencukupkan segala tentangmu, tetapi masih saja jika ada hal-hal mengganggu, aku akan tetap menghubungimu.

“Duh, Gusti, sebegini susahkah melepaskan Jingga dari hidupku?” begitulah aku pernah mengeluh pada Tuhan.

Kata mereka, jika seseorang sungguh-sungguh mencintai, maka orang yang dicintai itu akan selalu ada dalam hati dan pikirannya. Apa itu benar? Lalu, jika cinta itu bertepuk sebelah tangan, masihkah itu semua berlaku? Kupikir aku tak perlu mengetahui jawaban pastinya. Termasuk, mengapa hingga kini kau belum juga menikah? Lihat, mereka teman-teman sekelas kita telah memiliki jagoan kecil. Apa kau tak ingin seperti mereka? Lekaslah, pergi, menikahlah dengan gadis pilihanmu itu. Aku akan diam, mengunci semua hal tentangmu dan menyimpan rapi mereka. Aku sungguh ingin melihat kau berbahagia. Kau masih ingat pada tulisan-tulisanku tentangmu, bukan? Aku memberanikan diri untuk menyampaikannya agar kelak aku tak menyesal.

Terakhir, terima kasih atas semua kenangan itu. Kau akan tetap hidup sebagai Jingga di fajar dan senja hariku. Berbahagialah dengan caramu. Berbahagialah, karena bahagiamu adalah bahagiaku juga.

Salamku,

Sahabatmu


TAGS #30HariMenulisSuratCinta2015 #day8 Jingga surat cinta


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post