Menyapa Bumi Anging Mamiri

7 Feb 2015

Dear, Tie Tintang

Lama tak mendengar kabarmu, semoga kau di seberang sana selalu dalam perlindungan Yang Maha Esa. Aamiin. Kau masih ingatkah terakhir kalinya kita bertukar kabar, Tie? Betapa bahagia aku mengetahui kelahiran putri pertamamu. Sosok yang benar-benar engkau tunggu selama beberapa tahun menikah. Penantian yang berharga, tentu. :)

Beberapa waktu lalu, aku melihat kau mengunggah foto profil baru di facebook. Ada yang berbeda di situ, yang membuatku tersenyum lebar. Kau bersama dia, si kecil yang kau panggil Fatimah. Ah, dia cantik, Tie, seperti ibunya. ;)

Tie n baby Fatimah

Tie n baby Fatimah

Hmm, waktu benar-benar cepat berlalu, ya? Kalau aku tengok lagi persahabatan kita, rasanya baru kemarin kita bertemu di kelas IPA2 SMUN 9 Yogya. Kau dan Mira, dua orang siswa pindahan dari Sulawesi Selatan. Wah, mimpi apa aku mendapat teman dari seberang? :O Jadilah, si antuasias ini langsung sok kenal-sok dekat dengan kalian berdua. Menarik saja rasanya berbincang dengan kalian, dengan logat, dengan dialek itu… Maafkan jika aku terlalu antuasias, terkesan kebangetan. Sebagai orang Jawa tulen (lahir dan besar di Jawa), berjumpa dengan orang dari bumi Anging Mamiri adalah hal langka. :lol:

Sejak itu, kita makin akrab berteman. Kadang, jika aku sempat, aku akan mampir ke kost-mu di daerah Terban. Well, kalau aku ingat mampir ke kost-mu, tentu akan mengingatkanku pula pada kejadian saat aku terjatuh dari motor. Masih ingat, kan, Tie?

Pagi itu jadwal kita adalah mengambil STTB di sekolah. Kuakui, aku agak terburu-buru. Teringat pada janjiku untuk datang ke kost-mu sebelum ke sekolah, sementara hari telah beranjak siang. Agaknya nasib baik belum berpihak padaku pagi itu. Begitu sampai di Jalan Kaliurang km 6, sebuah mobil sedan merah tepat di depanku mengendara, mendadak mengerem. Rupanya, sebuah mobil lain di depan mobil sedan tersebut penyebabnya. Alhasil, motorku pun menabrak bemper belakang si sedan. Anehnya, karena sama-sama mengerem, si pengendara sedan bahkan sampai tak merasa jika ada motor yang menabrak bempernya. Apes! Si sedan melenggang pergi, aku-nya nyungsep! :cry:

Untunglah, aku ditolong oleh seorang lelaki muda pengendara vespa putih. Ia menepikan vespanya begitu melihat aku ngglangsar di jalan. Usianya (kupikir) beberapa tahun di atas kita, Tie.

“Dik, gak apa-apa, ta?” tanyanya sambil membantu motorku berdiri.

“Gak apa-apa, Mas. Makasih…” jawabku sembari meringis menahan sakit.

Ah, sungguh, Gusti Allah itu Maha Baik, Tie. Aku kena halangan di jalan, eh, ada mas-mas vespa cakep yang mau menolong. Luka di lutut kiriku tidak terasa lagi sakitnya, hahaha. :lol: Sayang sekali, sampai sekarang aku belum bertemu lagi dengan si pengendara vespa baik hati itu.

Sampai di kost-mu, kau marah campur gemas padaku. Sambil mengoleskan obat luka ke dengkulku, kau bilang, “Astaga, kodong! Lain kali lebih hati-hati ki.”

Baru kali itu aku mendengar kau mengatakan, “Astaga, kodong!”. Kalimat itu yang hingga saat ini selalu kuingat darimu, bahkan, hingga bertahun-tahun setelah kita lulus SMU.

Ya, persahabatan kita tetap saja tumbuh dan mengakar, meski jarak memisahkan. Jogja–Makassar selalu terhubung oleh surat-surat/e-mail kita. Beberapa masih kusimpan, yang lain … aku tak merasa membuangnya, mungkin terselip entah di mana.

surat-dari-tintang

Mungkin aku tipe orang konservatif kalau berurusan dengan pertemanan. Alhamdulillah, aku patut bersyukur karena dikaruniai Gusti Allah watak semacam ini. Bukankah begitu, Tie?

O ya, aku selalu berandai suatu ketika bisa singgah di tanah Sulawesi Selatan. Berkunjung ke Bantimurung, Pantai Losari, atau sekadar napak tilas di Aspuri Hipermata, tempat kost-mu dulu saat masih berkuliah S1 di Jurusan Akuntansi Universitas Hasanuddin. Entah kapan itu semua benar-benar menjadi kenyataan. I wish, I could fly …. hahaha, aku mengkhayal lagi! :P

Ya, bagaimanapun kita, sejauh apapun kita. Semoga itu bukan menjadi alasan untuk tidak menyambung tali silaturahim kita selama hampir 13 tahun terakhir. I do hope so, dear Tintang. Sehat-sehat selalu di sana, ya. Salam sayangku untuk si kecil Fatimah, suami, juga seluruh keluargamu di Takalar.

Dari sahabatmu di seberang,

Phie


TAGS #30HariMenulisSuratCinta2015 #day9 sahabat Tintang Makassar Anging Mamiri surat cinta


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post