Di Balik Senyum Dinda

9 Feb 2015

Dear, Dinda

Suatu pagi kedua bola mataku tercuri olehmu, seorang gadis kecil berusia empat tahun. Mereka memanggilmu Dinda. Entah, apa sebenarnya yang terjadi hingga perhatianku tercuri. Senyuman itu, senyuman lebar seperti milikku. Ya, kau tersenyum kepadaku, kepada tiap orang yang kau temui. Betapa menawan hati. Sayangnya, senyummu menyembunyikan sesuatu. Sebuah kepedihan yang tersingkap tanpa sengaja.

be-with-dinda

Di balik piyama mungilmu, kulihat sederet bekas luka bakar. Seorang tetangga dekat lalu berkisah segala hal tentangmu. Katanya, mereka tak begitu menginginkan kau datang ke dunia. Benarkah? Katanya, kekurangsiapan mereka membuat langkah awal berumah tangga seolah menjadi mimpi burukmu. Benarkah? Katanya, pendengaranmu terganggu pun juga karena mereka tak sepenuhnya peduli padamu. Benarkah?

Ia membongkar semua bukti di sebagian tubuhmu. Kau tahu, Dinda, mataku berkaca-kaca membayangkan engkau harus menyandang semua di usia semuda ini. Tak sanggup rasanya membayangkan setiap kejadian yang menorehkan luka-luka itu di tubuh kecilmu. Katanya, kau pernah tersiram cairan panas? Katanya, sebelum sepenuhnya sembuh, kau sudah harus terluka lagi karena kecelakaan lalu lintas. Benarkah?

Batinku terus menerus bertanya, tetapi di sisi lain … aku tak ingin mencampuri urusan mereka: orangtuamu. Hatiku tercuri olehmu, lantas terhanyut oleh haru dan sedih yang tetiba timbul. Sesekali muncul di benakku keheranan, bagaimana mungkin mereka tak sayang padamu, Dinda? Tidakkah keceriaan di wajahmu itu semestinya cukup untuk mereka? Cukup untuk mereka syukuri; cukup untuk memeliharamu selayaknya seorang anak?

Kau memang tertawa riang. Sesekali menunjuk ini-itu, berlari, berteriak supaya kami semua tahu apa yang kau inginkan. Kau memang tertawa riang. Seolah tak mau peduli pada ‘dosa-dosa’ mereka; pada cara mereka memperlakukanmu. Ah, Dinda, aku melihat begitu besar ketegaran di balik tubuh mungilmu. Kuharap kau akan tetap setangguh saat ini, kelak saat kau dewasa. Tumbuhlah menjadi gadis istimewa seperti apapun keadaanmu. Percayalah, Tuhan tentu punya skenario terbaik demi menempamu menjadi sebaik-baik insan. I do hope so.

Yang tercuri hatinya olehmu,

Bubu Phie


TAGS #30HariMenulisSuratCinta2015 #day11 Dinda surat cinta


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post