Bembem Sembilan Tahun Lalu

10 Feb 2015

Dear, Tim Relawan Bembem A

Jogja bergetar hebat sembilan tahun lalu. Kalian pasti ingat kejadian di pagi 27 Mei 2006 silam. Seumur-umur itu adalah kejadian gempa terdahsyat yang pernah kualami. Bisa jadi, kita semua sama-sama takut dan ngeri menghadapi keadaan Jogja kala itu. Seolah beras ditampi, keadaan sangat kacau. Setiap orang berlarian tak tentu arah berusaha menyelamatkan diri.

Usai kejadian hampir satu menit itu, ada getir yang tersisa. Bisa jadi, itu juga yang membuat kita lalu berduyun menuju gedung rektorat UGM. Mengikuti suara hati terdalam yang bisikannya membuat langkah kaki kian mantap. Terhimpunlah kita sebagai mahasiswa KKN sekaligus relawan di daerah terdampak gempa.

Masih ingatkah, dalam waktu singkat kita menyiapkan diri berikut segala hal. Semua serba mendadak, bahkan kelompok kita yang beranggotakan 26 orang baru menemukan dosen pembimbing dua hari sebelum keberangkatan. Tidak ada acara pembekalan sebagaimana tim KKN umumnya. Syukurlah, itu tak menjadi masalah. Kita seolah sangat maklum dengan keterbatasan di sekitar kita. Masing-masing dari kita mengerti, siapa punya apa bisa menawarkan diri untuk membawa. Saat berangkat tiba pun, kita telah bersiap dengan aroma kesedihan di posko relawan.

jalan-tengah-kampung-bembem

Di sana, ingatkah kalian? Posko kita bukan di rumah perangkat desa. Tidak ada rumah penduduk yang dituju karena hampir semua bangunan yang ada roboh, rata dengan tanah. Sebuah lahan lumayan lapang dinaungi pohon sawo, di sanalah tenda utama kita digelar, Kawan. Kita memulai bersama, belajar menjadi pemberani, meski bagiku itu hal yang sulit. Belajar menjadi orang-orang tangguh, meski harus terbentur sana-sini bertubi.

Kita ibarat sebuah keluarga dengan beberapa bagian penting: dapur umum, logistik, trauma center, mitigasi bencana, humas dan dana sosial, apa lagi lainnya …? Ah, maaf, aku lupa. :(

Empat puluh lima hari setidaknya kita bersama dalam keterbatasan. Beberapa bagian dari kita bahkan satu per satu jatuh sakit. Wajar. Kita bukan wonder women, juga bukan supermen. Kita adalah sekumpulan ordinary human being yang sedang berusaha memberi manfaat bagi sesama.

Keterbatasan. Apa aku menyesali segala keterbatasan itu? Tidak pernah. Bersama kalian adalah saat-saat tak terlupa. Aku belajar banyak hal dari kebersamaan kita. Aku belajar bertahan hidup di tenda, berkawan dengan kondisi ala kadarnya. Aku belajar menerima apapun yang ada. Memasak di dapur terbuka; mandi di bangunan yang nyaris roboh dindingnya; tidur di tenda yang jika siang difungsikan sebagai mushola. Betapapun itu teramat sederhana, aku belajar bagaimana menjadi perempuan dan teman bagi kalian semua. Meski kedengaran terlalu banyak kesedihan, trauma yang kita sapa … kita berusaha untuk bisa menanganinya. Kita bisa. Tentu, itu karena kita bersama dalam satu tim yang kokoh.

sebagian tim Bembem A

sebagian tim Bembem A

Terima kasih, Kawan. Terima kasih untuk segala hal yang mustahil kulupa. Terima kasih Adi, Topan, Ayu, Edwin, Hendro, Bams (Fak. Hukum); Andri, Fitri, Rambe, Rino, Palinggi (Fak. Teknik); Joko, Dede (FMIPA); Mita (Fak. Ilmu Budaya); Nurul (Fak. Psikologi); Pri, Agung (Fak. Pertanian); Onny, Nur, Edo, Gharta (Fak. Perternakan); Galuh, Febri (FISIP); Aan, Faisal (Fak. Geografi).

Salamku,

PJ


TAGS #30HariMenulisSuratCinta2015 #day12 Bembem relawan KKN peduli gempa surat cinta


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post