Be Strong, Girl!

11 Feb 2015

Dear, Ifah

Entah, harus memulakan surat ini dari mana. Yang jelas aku tertegun ketika bulan lalu kau singgah di redaksi dengan wajah muram. Alasanmu kala itu hanya menitip menge-print surat. Namun, diammu yang tak seperti biasa, membuat batinku bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, Fah?”

Aku masih saja diam, bermaksud tak mencampuri urusanmu karena aku tak pernah suka mengutak-atik kehidupan seseorang, kecuali aku dimintai saran. Setelah menunggu beberapa saat, kau akhirnya mau berkisah tentang kesulitan yang sedang kau hadapi. Sulit, aku tahu dari beberapa bulir airmata yang jatuh ke pipimu. Menangislah, tak apa. Kalaupun itu tidak bisa memperbaiki masalah, setidaknya kau akan jauh lebih lega. Lepaskanlah, katakan apapun yang kau mau, yang kau rasa. Semisal aku hanya bisa memberimu telinga untuk mendengarkan, maafkanlah. Namun, sebisa mungkin aku ada di sini untuk memberimu dukungan. Datang saja jika kau mau, tak perlu sungkan.

Masalah penelitian versus masa studi. Hmm, sebuah hal yang sangat wajar, menurutku. Dengarkan aku, Fah. Aku dulu serupa denganmu. Memulai semangat penelitian dengan sangat antusias. Tema pertama “mass rearing Bactrocera cucurbitae” terinspirasi dari artikel ilmiah di sebuah jurnal internasional. Karena kala itu mass rearing lalat buah di Indonesia baru established salah satunya di HPT Univ. Brawijaya, itupun Bactrocera carambolae; maka aku memenuhi undangan dosen pembimbing untuk berkunjung ke Malang, menemui seorang rekan beliau. Di sana aku bertemu dengan dua orang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, Riza dan Wahyu.

Mauku, aku juga seperti mereka. Segera masuk lab., melakukan yang terbaik setekun mungkin sehingga aku bisa lulus S1 tepat waktu. Sayang sekali, salah satu komponen pakan buatan yang digunakan untuk mass rearing B. cucurbitae dibanderol dengan harga sangat mahal. Kau tahu berapa? Enam belas juta rupiah per kilogramnya! OMG … :shock: Apa aku patah hati? Tentu. Meski tak separah jika putus cinta. :P

Well, karena tema cinta pertamaku harus lewat, maka aku harus segera move on, right, Dear? Tema kedua, masih sekitar mass rearing bangsa lalat. Ya, sepertinya aku memang sedang berjodoh dengan Diptera kala itu. Just enjoyed it, yes, I did. Hanya saja, kalau tema cinta pertamaku adalah Tephritidae, maka yang kedua ini bernama stalk eye alias Diopsidae. Di langkah kedua ini aku berkenalan lagi dengan seorang mahasiswa S1 dari Biologi UGM, Setyo. Dia meneliti bagian molekuler dari si Diopsidae. Beberapa kali kami berburu Diopsidae di sungai dekat rumah orangtuaku. Itu untuk penelitiannya, lalu aku bagaimana? Aku telah memulai membuat pakan buatan untuk mass rearing-nya juga. Bahan utamanya jagung manis. Tahukah kala itu aku sampai dijuluki Dayang Janggel (jagung), gegara di tivi sedang tayang serial Korea: Dae Jang Geum (Jewel in the Palace). Memangnya aku harus marah? Aku malah senang menjadi versi parodi dari sosok perempuan idolaku. ;)

Sayang, setelah dua atau tiga kali aku membuat pakan buatan, datang warning dari dosen pembimbing utama. Kata beliau, status Diopsidae di Indonesia belum jelas. Memang di Afrika, menjadi hama padi, cuma kalau di sini? Hidup di dekat sungai, tapi tak ketahuan apa tanaman inangnya; dan lagi … apa iya menjadi hama, atau setidaknya herbivor … itu yang belum pasti. Ok, keputusan bulat harus dipilih: aku mencoret nama Diopsidae dari hati dan lagi-lagi patah hati.

Tema ketiga, mendekat ke Tephritidae. Lagi? Iya! Aku gagal move on, Fah. :P Yang berbeda fokusnya beralih ke Fopius arisanus, salah satu parasitoidnya. Nama yang unik, seunik bentuk tubuhnya. Coba lihat ini! Hitam berpadu cokelat dan kuning, sempurna. :D

fopius-arisanuscredit

Untuk mendapatkannya pun aku harus berusaha keras. Berangkat lepas subuh, mengambil sampel buah di lima lokasi berbeda ketinggian. Yang tertinggi di Ngipiksari, Kaliurang (775 mdpl); yang terendah di Depok, Parangtritis (3 mdpl). Bermotor sana-sini selama lima minggu, disambung dengan lembur di lab. Entomologi Dasar. Pegal, lelah, berat … iya, body and soul, halah. :lol:

riset-phie

Kalau aku mau, aku bisa menyerah sejak dulu, Fah. Kau mungkin juga begitu. Apalagi ketika aku jatuh dari motor, pertengahan Januari 2007. Kejadian itu membuatku harus vakum nge-lab selama dua minggu. Akibatnya target wisudaku mundur beberapa kali. Mauku, Februari 2007 sudah menjadi sarjana, eh, tak tahunya baru bisa goal 20 November 2007.

Apa aku menyesal baru bisa lulus setelah 5 tahun 2 bulan? Tidak. Karena dengan proses yang sedemikian berliku selama dua tahun itulah, aku bisa lulus. Itulah cara Tuhan menempaku. Sebisa mungkin aku menikmatinya dengan sukacita, take it easy, dan have fun. Kalaupun sering timbul sesak di hati–entah karena saran dosen bertentangan dengan idealisme, entah karena masalah pribadi–aku pergi ke tempat kesukaan untuk menenangkan diri, juga berpasrah kepada Tuhan. Tak ada guna aku memaksa diri, jika telah sampai waktunya untuk rehat. Tak ada manfaat aku mengharuskan pikiran fokus nonstop, jika telah sampai pada batas kemampuanku. Kau tentu sudah mengerti benar hal ini, Fah. Percaya kau bisa melalui segala proses penelitianmu. Terima kasih sudah berbagi. Be strong, Girl. I stand by you. :)

Salam,

Phie


TAGS #30HariMenulisSuratCinta2015 I Stand by You #day13 Ifah surat cinta


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post