• 21

    Dec

    Sejejak Kamu

    credit Ada sejejak kamu dalam November Rain Menepuki gendang telinga Seolah menyapa kembali kisah dua kita, Seolah membalik masa Menuju cerita hujan dan segala isinya Sejejak kamu selalu syahdu Entah, tak kupaham mengapa begitu Semenjak roda-rodamu bergulir ke arahku Memulai kisah kita, aku dan kamu Dulu adalah kamu, seorang pecinta jalanan, laut, dan gunung Mimpi apa, kamu datang sejauh ini menujuku Raih perlahan dua tanganku Katamu, “Bolehkah ku diami separuh hatimu?” Ah, linang air mataku menjawab setuju Sejak itu tertoreh sejejak kamu dalam rinai hujan merdu Dulu adalah aku, seorang perempuan angin, kamu sebut begitu Tak gentarku karenamu Ya, karena sejejak kamu bisa ku berjalan berkawan angin dan awan Karena sejejak kamu mampu ku mewujudkan mimpi mencumbui padang
  • 27

    Apr

    Menjadi Gadis Kecilmu

    credit teruntuk Sapardi Djoko Damono Jika hujan turun, aku selalu ingin menjadi gadis kecilmu Berpayung menikmati hujan Merasakan jatuh cinta pada cakrawala Tak saja kala hujan turun di bulan Juni, tapi juga di bulan Maret atau Juli Jika sedang dilanda rindu, aku selalu ingin menjadi gadis kecilmu Menikmati butiran gerimis hingga meradang, membanjir tangis Atau seperti pesanmu Pergi tidur, memejamkan mata hingga bayanganmu mengabur lalu bermimpi jumpa dengan ia sampai tiba kala enggan terjaga Jika sedang jatuh cinta, betapa aku ingin menjadi gadis kecilmu Membiarkan angin membawa rasa lalu Merasai seperih apapun pilu yang timbul karena rindu Cukup diam mendoakan ia, dalam selamat sehat sejahtera Bukankah demikian terang sahajamu soal cinta? Jika boleh teramini doaku, betapa inginku m
  • 24

    Apr
  • 20

    Apr

    Kepada Bara

    credit Kepada bara Kurebahkan jiwa Di sepanjang rona pelangi beraroma jingga Sembari bersenandung hingga menggelora Hingga terlepas rupa-rupa, saujana Kepada bara Kutitipkan samsara Biar habis terbakar sedih segala macamnya Mengabu, larung, menuju sedia kala Kepada bara Kutautkan nestapa atas buncah rindu terlampau kentara Biar perlahan senyapnya Menghanguskan esa bejana, sukma Kepada bara Kutuang sepercik airmata Ke dalam tungku-tungku penuh nyala Mengobar, membakar, selayak panas Candradimuka Maksudku, sederhana Biar letih hati tiada lagi mendera Biar seruang tumbuh, sekadar mengizinkan bernapas lega Kupikir cuma kepada bara Kan kutuang samsara Biar habis terbakar sedih segala macamnya Mengabu, larung, menuju sedia kala -kaki Merapi, 20 April 2014, jelang tengah malam- #PuisiHore
  • 17

    Apr

    Matra

    credit: The Morgan Library & Museum Dua wajah terbaca dalam segores karya Ini cuma tentang bingkai dua matra yang kadang memicu perdebatan kita Seperti juga terjadi sesiangan tadi Kala kita berkeliaran di dunia maya, menjajaki galeri Satu bingkai karya dua matra Sekejap menghentikan jemari berpesta STOP! Selancar dunia maya pun mandheg seketika “Hebatnya Francis Picabia …. Seorang pria, separuh rupa Tirus wajah seperti menahan kelu tubuhnya, mungkin juga pedih yang bersandar, putus asa” Lugas kalimatmu berjejalan menyesaki udara ruang on line pameran Seolah menimpali kerumunan tanya sarat memenuhi otakku di tiap lipatannya Sayang, tak cukup waktu bibir bersuara “Satu lagi, menurut pandanganku adalah seraut wajah seorang nona Bibir dan pendar matanya memes
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post