• 11

    Feb

    Be Strong, Girl!

    Dear, Ifah Entah, harus memulakan surat ini dari mana. Yang jelas aku tertegun ketika bulan lalu kau singgah di redaksi dengan wajah muram. Alasanmu kala itu hanya menitip menge-print surat. Namun, diammu yang tak seperti biasa, membuat batinku bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, Fah?” Aku masih saja diam, bermaksud tak mencampuri urusanmu karena aku tak pernah suka mengutak-atik kehidupan seseorang, kecuali aku dimintai saran. Setelah menunggu beberapa saat, kau akhirnya mau berkisah tentang kesulitan yang sedang kau hadapi. Sulit, aku tahu dari beberapa bulir airmata yang jatuh ke pipimu. Menangislah, tak apa. Kalaupun itu tidak bisa memperbaiki masalah, setidaknya kau akan jauh lebih lega. Lepaskanlah, katakan apapun yang kau mau, yang kau rasa. Semisal aku hanya bisa
  • 13

    Feb

    Sepotong Kenangan, Rindu, dan Tuan

    Duhai, Tuan …. Rindukah engkau pada hari ketigabelas bulan kedua tiga tahun lalu? Hari di mana Tuhan membimbing kedua pasang kaki kita hingga bertemu. Hari di mana Tuhan menggelindingkan kedua roda kuda besimu menujuku. Hari di mana engkau berlelah-lelah mengupayakan niat demi separuh agamamu. Sampai kini aku masih percaya itu. Duhai, Tuan …. Rindukah engkau pada senja yang membawa segurat senyum jingga di langit Jogja? Senja itu masih tetap sama, tetap saja bersenyum mesra meski telah setahun tak sempat lagi engkau sapa. Adakah Tuhan menuntunmu kembali bersua dengan ia, nanti di satu ketika? Duhai, Tuan …. Rindukah engkau pada Biru? Juga selempit selendang dari Baduy itu? Mereka masih baik, kurawat dan kujaga. Sebaik menjaga gaun mocca dan kain tenun Borneo buah tan
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post