• 22

    Jul

    Sekali Waktu

    credit Sekali waktu Ingin kusinggah memandu bola mataku Menyisir lentik bulu matamu Menangkap kejap jenaka, air mata sayu Melebar menyipit malu-malu Sesekali tajam mengunjam hati hingga ke ulu Berlinang menahan lelah, sedih, dan keluh Merah meradang, penuh amarah sungguh Sekali waktu Ingin kususuri garis wajahmu Menyimpan tiap gurat senyum Menyematkan sejumlah kecup hangat di situ di bibir, yang samar kurindu Ada banyak cerita tercurah dari situ Sukamu, dukamu, pedihmu, laramu, bahagiamu Sekali waktu Ingin kucumbui renyah tawamu Mengabadikan suara-suara merdu dan bisik syahdu dari dua kita, sudah tentu Kalau perlu, bisa kusimpan di sebuah tumbu biar gemanya tak hilang, hingga anak-cucu Kupikir, itu inginku sekali waktu saja Nanti, di satu masa jika telah saatnya Bersama, nyaman kita d
  • 13

    Apr

    Dua Kita

    credit Sedikit hening berlabuh tetiba di antara duduk dua kita Tak beriak sedikitpun air muka, tiada teriak seperti biasa Dua kita pernah saling cinta Tapi, rasanya tertinggal sisa segelintir asa Mungkinkah dua kita menyerah pada hening tercipta? Sedikit hening berlabuh tetiba di antara duduk dua kita Seolah hadirnya memberi jeda tentang rasa, tentang beda, tentang padu padan dua jiwa Lalu sebaris tanya sekonyong mengudara, “Untuk apa kita mau bersama, jika nyatanya beda?” Apa dua kita tak patut bersama hanya karena jarak, status sosial, profesi: beda (?) lalu menyerah pada hening membatasi suara Adalah dua kita sebisa-bisa duduk bicara tentang rasa, tentang beda, tentang padu padan dua jiwa Sedari mula, dua kita memang beda Tapi, bukan untuk dicari di mana salahnya Katak
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post