• 22

    Jul

    Sekali Waktu

    credit Sekali waktu Ingin kusinggah memandu bola mataku Menyisir lentik bulu matamu Menangkap kejap jenaka, air mata sayu Melebar menyipit malu-malu Sesekali tajam mengunjam hati hingga ke ulu Berlinang menahan lelah, sedih, dan keluh Merah meradang, penuh amarah sungguh Sekali waktu Ingin kususuri garis wajahmu Menyimpan tiap gurat senyum Menyematkan sejumlah kecup hangat di situ di bibir, yang samar kurindu Ada banyak cerita tercurah dari situ Sukamu, dukamu, pedihmu, laramu, bahagiamu Sekali waktu Ingin kucumbui renyah tawamu Mengabadikan suara-suara merdu dan bisik syahdu dari dua kita, sudah tentu Kalau perlu, bisa kusimpan di sebuah tumbu biar gemanya tak hilang, hingga anak-cucu Kupikir, itu inginku sekali waktu saja Nanti, di satu masa jika telah saatnya Bersama, nyaman kita d
  • 12

    Aug

    Mari Bicara tentang Perpisahan

    credit Hai, kau Gadis kecilku Mari sini, sejenak duduk di samping Bubu Kita akan bicara banyak hal seperti kala itu Kala kau bilang sesuatu, sebuah harapan yang nyata pupus satu-satu Nona berharapnya Bubu yang jadi bibi baru Nona Itu satu kalimatmu seminggu lalu Terus terngiang hingga kini, dua hari lepas hari akad nikah Mamang Cartenz-mu Apa kau ingin juga tahu? Ada sedih yang berduyun merasuki hati Bubu Ada kenangan pahit tentang perpisahan itu Ada tangis meradang karena kehilangan Tapi, apa kau juga tahu? Apapun yang terjadi nanti, kini, atau dahulu telah diatur sangat baik oleh Tuhan; kita semestinya tahu Apapun yang telah jadi keputusan Mamang adalah juga yang semestinya kita hargai Bukankah demikian, Sayang? Jika sekarang perpisahan itu memicu lagi sesak di rongga dada Tak apa,
  • 8

    Jul

    Tentang Sebuah Nama

    credit di sepanjang jarak ini, tereja nama yang menguar ke mana, entah mungkin dia, atau sesiapa yang muncul dari dunia berantah dulu, nama itu meluncur cepat serupa anak panah dari sebuah tempat yang pernah mereka sebut Antah mengapa bisa begitu? tentu, karena nama itu hadir tanpa diminta mereka bilang nama itu jatuh cinta padanya tapi ia pikir, apa bisa? tanpa ada bersama, apa bisa? lalu mereka bilang, “Itu cinta ala dunia maya” aneh-aneh saja isi dunia sudah ada cinta monyet, cinta sejati, cinta bertepuk sebelah tangan sekarang makin riuh saja oleh cinta dunia maya mulanya terlampau absurd untuk ia mengerti, terlalu sulit menelan beberapa suap efek teknologi tapi, imbasnya mengena pula pada diri cinta dunia maya menghunjam hati, oh … jangan lagi-lagi ada jarak ya
  • 11

    Apr

    Remah Rindu

    credit Semalam tadi aku mengendap-endap menelusur kenanganmu yang tertelan gelap Yang kutemui remah rindu juga luka-luka lebam membiru Ada gulita, terpasung di sana Ada hampa, tersemat, sesekali hilang lalu mengada Ada rinai airmata, tak pernah bosan bercanda Entah bercanda soal apa Entah bergurauan menuju ke mana Dalam hening, remah rindu perlahan tepis Menguar, mengering, menipis lalu hilang bersama dini hari gerimis -kaki Merapi, 11 April 2014, jelang subuh-
  • 19

    Mar

    Apa Ini Salahnya Hujan?

    credit tentang hujan setahun lalu Hei, Kau.. Ya, kau yang berpayung hijau Menolehlah kemari sejenak Ingin sekali aku bisa bercakap dengan kau Duhai yang berpayung hijau Bulan kemarin kudengar kabar banjir ibukota Pintu air Katulampa disebut-sebut mereka Lalu yang satu lagi meluap di Latuharhary Jebol menembus basement gedung UOB Bisakah kita sejenak duduk dan berpikir Kupikir kau bisa menjawabnya Apakah ini salahnya hujan? Turun menderas menyesaki pintu-pintu air Padahal mereka hanya butir-butir kecil Yang diturunkan sebagai berkah bagi yang mau mengerti Yang dipercikkan sebagai saksi kecintaan Ilahi Apakah ini salahnya hujan? Menitik, menghunjami bumi Padahal kalau kau tahu, hujan adalah bukti Betapa langit merindukan bumi Yang sekian lama haus kekeringan Yang sekian lama didera pan
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post