• 12

    Feb

    Namanya Aleryovan Nahli Erlangga

    Dear, Aloel Sebelum aku menulis banyak hal, bolehkah lebih dulu aku tertawa? :lol: Aneh rasanya memanggilmu dengan nama lengkap itu: Aleryovan Nahli Erlangga. Berapa banyak teman seangkatan kita yang tahu soal namamu ini? Aku pernah bilang, kan? It’s succesfully hidden so far. Well, yes, it was. Selama perkuliahan kau hanya menggunakan nama tengahmu: Nahli. Siapa yang tahu selain aku dan teman-teman dekatmu? Kupikir tak banyak. Yaelah, yakin banget! :P Kau tahu, Loel. Pertama kali melihatmu di antara teman HPT 2002, yang ada dalam benakku adalah sebuah kata yang bila dieja menjadi seperti ini: a-n-e-h. :lol: Bukan, bukan maksudku merendahkanmu. Ini pengakuan jujur dari seseorang yang tak sadar bahwa hal itu adalah satu dari sekian alasan yang membikin kita kelak menjadi teman baik.
  • 8

    Feb

    Setahun Lagi

    Dear, Mbakyu Virce Semoga Mbakyu di seberang sana baik-baik saja, di musim apapun Jepang saat ini. Minggu lalu aku menerima kabar bahwa kau masih setahun lagi selesai pendidikan doktoral di Yamagata University. “Beresnya Maret 2016, Jupice…” begitu katamu di kolom komentar foto yang baru saja kuunggah. Ah, ya, setahun lagi untuk bersabar. Setahun lagi untuk menanti kau pulang ke Indonesia. Tidak akan pernah terasakan lama jika kita sibuk mengerjakan ini dan itu dengan suka cita. Mbak Vir, aku bersyukur, kau masih selalu ingat denganku. Meski kau jauh di sana, tapi tak pernah lupa menyambung tali silaturahim kita. Tahun lalu bingkisan cokelat dan pembatas buku datang lewat Bu Mys; selanjutnya ada sumpit kayu yang kau titip ke May; lalu yang paling baru ada sumpit (lagi)
  • 7

    Feb

    Menyapa Bumi Anging Mamiri

    Dear, Tie Tintang Lama tak mendengar kabarmu, semoga kau di seberang sana selalu dalam perlindungan Yang Maha Esa. Aamiin. Kau masih ingatkah terakhir kalinya kita bertukar kabar, Tie? Betapa bahagia aku mengetahui kelahiran putri pertamamu. Sosok yang benar-benar engkau tunggu selama beberapa tahun menikah. Penantian yang berharga, tentu. :) Beberapa waktu lalu, aku melihat kau mengunggah foto profil baru di facebook. Ada yang berbeda di situ, yang membuatku tersenyum lebar. Kau bersama dia, si kecil yang kau panggil Fatimah. Ah, dia cantik, Tie, seperti ibunya. ;) Tie n baby Fatimah Hmm, waktu benar-benar cepat berlalu, ya? Kalau aku tengok lagi persahabatan kita, rasanya baru kemarin kita bertemu di kelas IPA2 SMUN 9 Yogya. Kau dan Mira, dua orang siswa pindahan dari Sulawesi Selat
  • 23

    Feb

    Salam dari Indonesia

    Dearest Mbak Susi Apa kabar, Mbak? Bulan ini sudah bulan ke berapa, ya, kau tidak berada di Indonesia? Seingatku tahun kemarin setelah Idul Fitri, kau berangkat. Ya, 10 bulan di Jerman untuk menambah ilmu. Entah, apa memang begitu syarat program doktor pascasarjana? Harus melalui program sandwich ke luar negeri selama beberapa bulan? Hm, aku belum begitu paham. Yang jelas, sepengetahuanku ada memang beberapa kolega redaksi yang dulunya juga melalui masa sandwich seperti yang saat ini kau laksanakan. Ah, sudahlah … nanti kalau kau pulang ke Indonesia, bolehlah kita ngobrol sepuasnya. ;) Tahukah, Mbak? Aku sebenarnya khawatir waktu kau harus pergi dalam kondisi sakit. Belum lagi berpikir bagaimana dengan bekal dan barang bawaan yang banyak, sementara bagasi per penumpang dibatasi. Ak
  • 22

    Feb

    Tentang nDes

    Dear, nDesi Aku masih ingat, sore itu aku mengantar sesuatu ke kostmu di Gang Alamanda. Sebentar, kalau tak keliru ingat, hm …, voucher makan, ya? Entah, ilfeel rasanya dengan kejadian ditampik itu. Aku sudah berbagi ceritanya, kan? Itulah mengapa kupindahtangankan voucher itu kepadamu. Karena kau mau, jadilah, sore itu aku datang ke kostmu. Sekalian menyambung silaturahim kita yang pernah renggang sekian waktu lamanya. “Desi Puspitasari, kawan sekelompok ospekku, seperti apa ia sekarang?” pikirku sepanjang perjalanan. Saat aku tiba di halaman depan bangunan kost, sebuah pesan singkat kukirim kepadamu. Tak ada 5 menit kemudian, kita pun bertemu lalu berbincang tentang banyak hal. Maklumlah, lama tak berjumpa. Rupanya kau masih berjibaku di Jogja. Masih juga bertahan men
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post